Karawang, TELUSURBISNIS.COM — Di sebuah sudut sepi di Dusun Bojongkarya 1 Desa Rengasdengklok Selatan, Rengasdengklok, Karawang, seorang ibu muda bernama Mariam (32) menjalani hidup dalam sunyi dan sakit. Tubuhnya yang dulu lincah, kini hanya bisa tergolek lemah. Tangan kiri dan kaki kanannya kaku. Ia hanya bisa terjaga bila dibangunkan, itu pun dengan susah payah.
Tak pernah ada dokter yang menatap langsung keadaannya. Tak sekalipun tubuhnya disentuh obat medis. Bukan karena tak ingin berobat, tapi karena tak sanggup. Kemiskinan telah lama membungkam harapan keluarga kecil ini.
Suaminya, hanya seorang buruh pengantar air galon. Penghasilannya nyaris habis untuk makan sehari-hari, apalagi untuk pengobatan atau biaya sekolah anak. Putra mereka, siswa kelas 5 SD, bahkan terpaksa berhenti belajar demi menjaga ibunya saat sang ayah bekerja.
Sakit Mariam bermula dari sebuah kecelakaan kecil. Ia terjatuh, lalu perlahan tubuhnya melemah. Tak lama setelah itu, ia mengalami pendarahan hebat selama hampir sebulan. Tapi semua gejala itu hanya dilewati dalam diam. Tanpa diagnosa. Tanpa pengobatan. Hanya doa dan pasrah yang menyelimuti hari-harinya.
Yang lebih menyedihkan, selama berbulan-bulan sakit, tak ada bantuan dari pemerintah. Tak satu pun aparat desa datang mengetuk pintu. Rumah yang nyaris roboh itu seperti berada di luar peta perhatian negara.
Namun, di tengah sepi dan keterasingan, seberkas harapan datang. Kamis, 26 Juni 2025, tim dari Karawang Tanggap Peduli (KTP) datang menyapa. Organisasi kemanusiaan yang dikenal konsisten membantu warga terpinggirkan itu, turun langsung melihat kondisi Mariam.
“Kami akan bawa tim medis untuk pemeriksaan dan penanganan awal. Ini harus segera,” ujar H. Asep Mulyana, Ketua Umum KTP.
Tak hanya tindakan medis, KTP juga tengah mengurus kepesertaan Kartu Indonesia Sehat (KIS) agar Mariam bisa dirujuk ke RSUD Karawang untuk penanganan lanjutan. “Kami ingin pengobatan Bu Mariam ditangani sampai tuntas,” tambah Asep.
Sebagai bentuk perhatian awal, KTP menyerahkan tempat tidur baru, perlengkapan tidur, dan bantuan sembako bagi keluarga ini.
Rumah Mariam sendiri jauh dari kata layak. Atapnya bocor, dindingnya hanya tumpukan baliho bekas—termasuk baliho para pejabat yang ironisnya tak pernah hadir untuknya. Saat hujan turun, keluarga kecil ini hanya bisa berdoa agar genteng tak jatuh menimpa tubuh..
Hari ini, Mariam mungkin masih terbaring lemah. Tapi ia tidak lagi sendiri. Ada yang peduli. Ada yang berbuat. Ada yang hadir.
