Dari Forum Dialog Pentahelix, KTP: Air Mengalir Lewat Kami, Tapi Bukan Untuk Kami

Telusur Bisnis
3 Min Read

Jakarta, TELUSURBISNIS.COM – Forum Dialog Pentahelix bertajuk “Kontroversi AQUA dan Momentum Akuntabilitas Ekologis Air” yang digelar di Salemba, Jakarta, Rabu 5 November 2025, sukses mencuri perhatian publik.

Forum yang digagas oleh Pentahelix Center bersama FEB Universitas MH Thamrin, IndexPolitica, dan Komunitas Kita Tanam Pohon (KTP) itu mempertemukan unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga media.

Hasilnya, forum melahirkan Maklumat Salemba 2025, sebuah pernyataan moral lintas sektor yang menyerukan keadilan ekologis dan reformasi kebijakan air di Indonesia.

Ketua Komunitas KTP Asep Mulyana dalam forum itu menegaskan, krisis air bukan sekadar isu lingkungan, melainkan soal ketimpangan sosial yang nyata.

Logopit 1762427310612 Dari Forum Dialog Pentahelix, KTP: Air Mengalir Lewat Kami, Tapi Bukan Untuk Kami0

“Di bawah kami kebanjiran, di atas petani kami kekeringan. Air lewat di depan mata, tapi tak sampai ke tangan rakyat,” kata Asep.

Asep menilai, eksploitasi air tanah oleh industri besar telah merampas hak hidup masyarakat di daerah hilir. “Air mengalir melalui Kali Malang, melewati kami, bukan untuk kami,” ujarnya.

Lewat pengalamannya di lapangan, KTP kemudian merumuskan gerakan akar rumput bertajuk Sinambung (Sistem Enam Tabung), model ekonomi hijau berbasis rakyat yang berporos pada harmoni air, tanah, dan manusia.
Enam tabung itu meliputi Tabung Pohon, Tabung Air, Tabung Ikan, Tabung Sampah, Tabung Energi, dan Tabung Wisata.

“Ini ekonomi yang menghidupi, bukan mengeringkan,” tegas Asep.

KTP juga menyambut Maklumat Salemba 2025 sebagai momentum kebangkitan moral ekologis. Mereka mendukung audit nasional terhadap izin eksploitasi air tanah dalam, pembukaan data sumber air secara publik, dan reformasi izin industri yang dinilai memperparah penurunan muka air tanah.

“Kita tidak sedang melawan satu perusahaan, tapi cara berpikir yang menempatkan keuntungan di atas kehidupan,” ucap Asep. “Air bukan milik siapa pun, air adalah milik semua makhluk.”

Nada serupa disampaikan Direktur Eksekutif Pentahelix Center, Alip Purnomo. Ia menilai praktik eksploitasi air tanah dalam oleh industri air kemasan sudah melewati batas moral dan ekologis.

“Air tanah dalam itu cadangan ekologis strategis, bukan sumber ekonomi jangka pendek. Air bisa murni secara kimia, tapi belum tentu murni secara moral,” sindir Alip.

Secara satir, Alip bahkan mengusulkan revisi istilah “Produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK)” menjadi “Produsen Kemasan Berisi Air Minum (KBAM)”.

“Mereka bukan produsen air, tapi pengemas air yang diproduksi oleh alam,” ujarnya, disambut tawa dan tepuk tangan peserta forum.

Forum Salemba 2025 pun ditutup dengan satu pesan kuat yang menggema di ruangan: “Bangsa yang bijak bukan yang punya banyak sumur bor, tapi yang mampu menjaga setiap mata airnya tetap hidup.” ***

Share This Article
Follow:
Kami adalah media online yang menyajikan informasi terkini, inspiratif dan inovatif. Kami berkomitmen menyampaikan informasi secara cerdas, menginspirasi dan mengedukasi. (*)
Leave a comment