Karawang, TELUSURBISNIS.COM — Menjelang datangnya musim pancaroba dan meningkatnya potensi cuaca ekstrem, Pemerintah Kabupaten Karawang resmi menetapkan status Siaga Bencana. Keputusan ini diumumkan dalam Rapat Koordinasi Siaga Bencana Hidrometeorologi Basah, yang digelar di Gedung Singaperbangsa lantai 3, Rabu (12/11/2025).
Rakor dipimpin langsung oleh Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, dan dihadiri jajaran Forkopimda, para kepala OPD, camat se-Karawang, serta komunitas relawan dan unsur Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB).
“Jangan anggap remeh musim pancaroba. Karawang ini langganan banjir. Karena itu, kesiapsiagaan harus ditingkatkan agar tidak ada korban,” tegas Aep dalam arahannya.
Menurut Aep, koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama untuk memperkuat sistem tanggap darurat daerah.
Dalam rapat itu, seluruh peserta menandatangani berita acara kesepakatan siaga bencana sebagai bentuk komitmen bersama menghadapi ancaman hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan angin kencang.
“Risiko bencana di Karawang saat ini masih di level sedang, tapi trennya meningkat. Karena itu, pemetaan dan penanganan terpadu menjadi prioritas,” kata Aep.
Ia juga menyinggung ancaman gempa bumi yang sulit diprediksi namun tetap perlu diantisipasi.
Penetapan status siaga ini berarti seluruh unsur pemerintahan, lembaga, hingga masyarakat diminta siaga 24 jam menghadapi perubahan cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi.
Kebijakan tersebut berlandaskan UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana serta Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025 mengenai status siaga darurat bencana hidrometeorologi di wilayah Jawa Barat tahun 2025/2026.
Ketua FPRB Karawang, H. Asep Mulyana, menyebut rakor ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesiapsiagaan daerah.
“Kami siap mengawal langkah siaga ini. Mitigasi, koordinasi, dan komunikasi menjadi kunci agar penanganan bencana bisa lebih cepat dan terarah,” ujarnya.
Dengan status siaga resmi ditetapkan, Karawang kini bersiap menghadapi musim basah dengan langkah terukur, antara kewaspadaan dan gotong royong menghadapi alam yang kian tak menentu. ***
