Karawang, TELUSURBISNIS.COM – Wakil Ketua DPR RI Saan Mustofa menyebut, pembangunan danau retensi dan rumah pompa banjir di Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, sebagai target akhir “banjir abadi” Karangligar.
Proyek strategis yang menelan anggaran sekitar Rp100 miliar itu disebut sebagai upaya menyelesaikan akar persoalan banjir kronis yang dua dekade terakhir menghantui wilayah tersebut.
Dalam proyek ini, Pemerintah Kabupaten Karawang melakukan seluruh proses pembebasan lahan dan ganti rugi. Sementara konstruksi fisik sepenuhnya dibiayai pemerintah pusat lewat usulan DPR RI.
“Ini kolaborasi Kementerian PUPR, Pemkab, dan DPR untuk menyelesaikan akar masalah banjir. Kalau hanya artifisial, persoalan tidak akan pernah selesai,” kata Saan di lokasi proyek di Desa Parungsari.
Menurut Saan, mitigasi banjir merupakan bentuk perlindungan terhadap masyarakat dan selaras dengan komitmen Presiden Prabowo yang menempatkan keselamatan rakyat sebagai prioritas. Ia berharap fasilitas baru ini bisa menghentikan “banjir abadi” yang merendam ratusan rumah dan 160 hektare sawah, yang selama ini ikut mengganggu ketahanan pangan nasional.
Kepala BBWS Citarum, Marasi Deon Joubert, memetakan tiga faktor utama penyebab banjir di Karangligar: aliran balik Sungai Cibeet, penurunan muka tanah hingga dua meter antara 2007–2015, serta land subsidence yang masih terus terjadi sekitar 1,11 cm per tahun.
Sebagai respons, pemerintah melakukan normalisasi sungai, membangun tanggul, dan membangun rumah pompa di saluran pembuang Cidawolong dan Kedunghurang. Nilai kontrak untuk Cidawolong tercatat Rp55,4 miliar, sementara Kedunghurang senilai Rp44,7 miliar. Deon menargetkan pemasangan pintu air dan pompa beroperasi pada Juli–Agustus 2026.
Meski begitu, masih ada pekerjaan besar: pembangunan tanggul Sungai Cibeet di sisi Karawang dan Bekasi sepanjang 11,84 kilometer dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp400 miliar.
“Kami sedang berkordinasi dengan Pemkab Karawang untuk penyelesaian pembebasan lahan. Beberapa hari terakhir progresnya sudah bergerak,” ujarnya.
Proyek ini diproyeksikan menjadi solusi permanen bagi banjir kronis yang selama dua dekade mengganggu kehidupan warga dan aktivitas pertanian di Karangligar dan wilayah sekitarnya. ***
