TELUSURBISNIS.COM – Banyak pemula yang salah kaprah soal bisnis properti. Mereka berpikir harus punya modal ratusan juta baru bisa mulai, padahal kenyataannya tidak selalu begitu.
Ada beberapa model bisnis properti yang bisa dijalankan hampir tanpa modal besar, asal kamu tahu strateginya. Contohnya, menjadi broker properti atau mengelola properti orang lain untuk disewakan.
Intinya, modal uang besar bukanlah syarat mutlak untuk memulai. Hal paling penting sebenarnya adalah membangun jaringan yang kuat. Kenalan dengan pemilik properti, investor, dan calon penyewa akan membuka banyak peluang yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Selain itu, skill seperti negosiasi, pemasaran, dan manajemen properti juga sangat menentukan. Kombinasi antara jaringan yang luas dan kemampuan yang mumpuni membuat kamu bisa mulai dari skala kecil tapi tetap menghasilkan profit yang nyata.
Tak kalah penting adalah kejujuran dan konsistensi. Properti adalah bisnis jangka panjang, jadi membangun reputasi sebagai orang yang dapat dipercaya akan mendatangkan klien dan mitra yang loyal.
Konsistensi dalam menjalankan bisnis, mengikuti tren pasar, dan terus belajar akan memastikan usaha properti yang kamu jalani bisa menjadi penghasilan besar dan berkelanjutan. Jadi, jangan biarkan anggapan “harus modal besar” menghentikan langkahmu untuk mulai sekarang.
10 Trik yang Dapat Kamu Lakukan
Broker Pemasaran Properti
1. Makelar kontrakan/kos-kosan
Banyak pemilik kos butuh pencari penyewa. Komisi per kamar bisa rutin.
Pengelola properti (property management)
Menyewakan, merapikan, mengurus maintenance untuk pemilik properti sibuk.
Sewa – Ubah – Sewakan kembali (arbitrase properti)
Sewa unit kosong, dekor sedikit, sewakan dengan harga lebih tinggi.
Model-model ini termasuk kategori UMKM properti yang cepat balik modal dan skalabel.
2. Pilih Segmen yang Paling Butuh Solusi
Segmen kecil yang tepat bisa jauh lebih menguntungkan daripada pasar besar yang sudah ramai. Contoh segmen potensial:
Pekerja pabrik di kawasan industri (perumahan sederhana / kos karyawan).
Mahasiswa (kontrakan dekat kampus).
Pekerja jarak jauh/digital nomad (sewa harian).
Keluarga kecil muda yang mencari rumah subsidi.
Semakin spesifik segmen → semakin mudah closing.
3. Bangun Jaringan Lebih Dulu, Baru Mulai Jualan
Properti itu bisnis jaringan. Untuk skala UMKM, fokus ke:
Ketua RT/RW: mereka tahu siapa mau jual/kontrak.
Notaris/PPAT: punya data transaksi dan pemilik properti.
Pemilik kos-kontrakan: butuh penyewa dan pengelola.
Developer kecil: butuh tim marketing tambahan.
Jaringan kuat = listing banyak = arus uang lancar.
4. Kuasai Skill Presentasi dan Negosiasi
Di UMKM properti, skill ini lebih penting daripada modal. Latih:
Cara memotret properti yang bagus.
Cara bikin deskripsi properti yang menjual.
Cara follow up supaya cepat closing.
Teknik negosiasi win–win antara pemilik & pembeli.
5. Perkuat Branding di Media Sosial
Zaman sekarang, orang mencari rumah dari HP. Buat:
Konten edukasi properti (tips KPR, cek sertifikat).
Video review lokasi properti.
Testimoni pelanggan.
Portofolio listing.
Branding kecil tapi konsisten bisa bikin kamu terlihat profesional dan dipercaya.
6. Analisis Legalitas Properti, Jangan Sampai Tersandung
Pemula UMKM sering kena masalah karena tidak cek dokumen. Pastikan:
Sertifikat SHM/SHGB jelas.
Status bangunan dan IMB/PBG.
Tidak sengketa atau diagunkan.
Semua kesepakatan tertulis.
Reputasi lebih mahal dari komisi.
7. Fokus Pada Properti Harga Terjangkau
UMKM properti paling cepat berkembang di segmen:
Rumah subsidi
Kavling siap bangun
Kontrakan sederhana
Rumah second harga 100–300 jutaan
Segmen ini punya perputaran cepat, peminat banyak, dan margin cukup stabil.
8. Mulai dari Skala Kecil, Lalu Bertahap Naik
Setelah pengalaman dan modal terkumpul, baru:
Bangun kos-kosan kecil (4–6 kamar).
Beli tanah kavling kecil untuk dijual kembali.
Renovasi rumah tua untuk dijual (flipping).
Naik kelas bertahap jauh lebih aman daripada langsung proyek besar.
9. Jaga Integritas, Itu Modal Utama
Pelanggan properti biasanya datang dari rekomendasi. Kuncinya:
Transparan harga & kondisi properti.
Tidak memaksa calon pembeli.
Konsisten melayani setelah transaksi selesai.
Nama baik adalah aset terbesar dalam UMKM properti.
10. Dokumentasikan Setiap Progres
Foto, laporan pemasaran, daftar prospek, progress listing → ini membuatmu terlihat profesional dan membuat pemilik properti nyaman menitipkan unit. (*)
