Ketika Chip RAM Menjadi Titik Lemah Apple

Telusur Bisnis
2 Min Read
Ketika Chip RAM Menjadi Titik Lemah Apple

Dari perspektif analis industri, lonjakan biaya chip RAM LPDDR5X 12GB menjadi salah satu ujian paling berat bagi Apple dalam beberapa tahun terakhir. Premi hingga 230 persen bukan sekadar angka, melainkan sinyal bahwa keseimbangan kekuatan dalam rantai pasok mulai bergeser.

Apple memang dikenal memiliki kontrol ekosistem yang kuat, namun krisis DRAM global menunjukkan bahwa bahkan perusahaan sebesar Apple tidak sepenuhnya kebal terhadap dinamika pasar semikonduktor.

Dampak Langsung pada Strategi Produk

Kenaikan harga RAM secara langsung memengaruhi strategi spesifikasi iPhone. Penggunaan memori enam saluran pada iPhone 18 untuk mendukung AI merupakan langkah teknologis yang logis, tetapi mahal.

Dalam jangka pendek, Apple kemungkinan akan menyerap sebagian biaya untuk menjaga daya saing. Namun, dalam jangka menengah, kenaikan harga perangkat menjadi sulit dihindari.

Keunggulan Apple Dibanding Kompetitor

Di sisi lain, Apple memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak pesaing: kemampuan mengembangkan chip sendiri. Dengan menghilangkan ketergantungan pada Qualcomm dan vendor lain, Apple dapat mengalihkan anggaran ke sektor yang lebih krusial, seperti DRAM.

Strategi ini memperlihatkan kedewasaan Apple dalam mengelola krisis struktural industri.

Krisis yang Akan Menentukan Arah Industri

Dengan kekurangan DRAM diprediksi berlanjut hingga 2027, industri smartphone akan memasuki fase seleksi alam. Produsen yang tidak mampu menyeimbangkan biaya dan inovasi berpotensi tertinggal.

Dalam konteks ini, Apple justru berpeluang memperkuat posisinya sebagai pemimpin pasar premium.

Share This Article
Follow:
Kami adalah media online yang menyajikan informasi terkini, inspiratif dan inovatif. Kami berkomitmen menyampaikan informasi secara cerdas, menginspirasi dan mengedukasi. (*)
Leave a comment