TELUSURBISNIS.COM – Hewan peliharaan eksotis Sugar Glider berhasil mencuri perhatian banyak orang, terutama di Indonesia. Hewan mungil asal Australia dan Papua ini tampak imut dengan mata bulat besar, telinga lentur, dan ekor panjang yang menambah daya tariknya.
Selain lucu, sugar glider juga punya keunikan biologis yang menarik bagi penggemar hewan eksotis. Mereka termasuk hewan omnivora, jadi pola makannya beragam, dari buah, sayuran, hingga protein seperti serangga atau telur rebus.
Induknya sangat perhatian pada bayi yang baru lahir, yang tinggal di kantong induk selama sekitar dua bulan sebelum mulai mandiri. Perilaku sosial dan kebiasaan nokturnal ini menuntut pemelihara untuk paham psikologi hewan dan menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, serta stimulasi mental yang cukup agar tetap sehat dan aktif.
Tak hanya sebagai hewan peliharaan, sugar glider juga punya peluang budidaya yang menarik di Indonesia. Iklim tropis yang hangat dan lembap cukup ideal untuk kehidupan mereka, asalkan kandang tinggi, luas, dan dilengkapi kantong tidur serta mainan untuk aktivitas fisik.
Varian warna populer seperti leucistic atau mosaic bisa menjadi incaran kolektor, sehingga harga jualnya bisa cukup tinggi. Dengan perawatan tepat, sugar glider tidak hanya menghibur tapi juga berpotensi menjadi usaha hobi yang menguntungkan bagi penggemar hewan eksotis.
Trik Jitu Budidaya Sugar Glider
1. Persiapan Awal
Modal dan Peralatan:
Indukan sugar glider sehat: minimal 1 pasang (Rp 2–5 juta per ekor, tergantung varian warna/genetik).
Kandang tinggi & luas: ukuran minimal 80×60×120 cm per pasangan, bahan besi/kawat anti karat, tambahkan ranting/tangga.
Kantong tidur/pouch, wadah pakan & minum.
Pakan dan suplemen: buah segar, sayur hijau, protein (ulat hongkong, serangga kecil, telur rebus), vitamin/mineral.
Alat kebersihan: semprotan air, sabun non-toxic, sikat, alas kandang.
Lingkungan:
Suhu 24–30°C, kelembapan 50–60%.
Hindari Cahaya Matahari Langsung dan Kebisingan
2. Pemilihan Indukan
Kriteria Indukan Ideal:
Sehat, aktif, tanpa cacat fisik.
Usia 12–24 bulan, sudah dewasa secara seksual.
Varian warna populer untuk peluang jual lebih tinggi (misal leucistic, mosaic).
Tips Pasangan
Pilih jantan & betina yang kompatibel.
Hindari kawin antar-indukan yang terlalu dekat hubungan darah untuk mencegah cacat genetik.
3. Kawin dan Reproduksi
Masa kawin: betina dewasa bisa kawin setiap bulan setelah mencapai usia 12–15 bulan.
Masa hamil: ±16 hari.
Bayi lahir sangat kecil, langsung masuk kantong induk.
Jangan ganggu bayi selama 2 bulan pertama, karena mereka bergantung pada kantong induk.
Setelah 2 bulan, bayi mulai belajar makan sendiri dan bisa dipisahkan untuk dijual.
4. Pakan dan Nutrisi
Makanan Harian:
Buah tropis: pisang, pepaya, apel, melon.
Sayur hijau: bayam, kangkung, brokoli, selada.
Protein: ulat hongkong, jangkrik, telur rebus, kadang campuran pelet khusus sugar glider.
Vitamin/mineral: suplemen tambahan untuk menjaga kesehatan anak dan induk.
Tips Nutrisi
Pastikan variasi makanan agar sugar glider tidak kekurangan gizi.
Berikan pakan protein minimal 3–4 kali seminggu untuk induk kawin & anak.
5. Perawatan Kandang
Bersihkan kandang 2–3 kali seminggu.
Ganti air minum setiap hari.
Cek kondisi sugar glider: bulu rontok, lesu, atau stres bisa jadi tanda masalah kesehatan.
Tambahkan mainan atau ranting baru untuk stimulasi mental dan fisik.
6. Proyeksi Produksi & Keuntungan
Asumsi awal 1 pasang indukan:
1 kelahiran: 1–2 bayi
Frekuensi kelahiran: 1–2 kali setahun (tergantung kesehatan & perawatan)
Harga jual:
Sugar glider biasa: Rp 1–2 juta
Varian warna langka: Rp 5–10 juta
Contoh proyeksi 1 tahun (pasangan indukan biasa, 2 kelahiran, total 3 bayi):
Pendapatan: 3 bayi × Rp 1,5 juta = Rp 4,5 juta
Biaya pakan & perawatan: ±Rp 1–1,5 juta
Keuntungan bersih: ±Rp 3 juta per pasang indukan per tahun
Skala lebih besar (5–10 pasang) bisa jadi usaha sampingan serius dengan keuntungan puluhan juta per tahun.
7. Legalitas dan Etika
Cek aturan BKSDA lokal terkait kepemilikan & budidaya sugar glider.
Pastikan transaksi legal untuk menghindari sanksi.
Etika: jangan memelihara terlalu padat, selalu jaga kesehatan dan kesejahteraan hewan. (*)

