TELUSURBISNIS.COM – Siapapun tak pernah menyangka kalau dari tumpukan sampah organik bisa lahir peluang bisnis yang menjanjikan? Budidaya maggot, si larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF), kini jadi bintang baru di kalangan peternak dan petani modern.
Maggot dikenal rakus memakan limbah organik seperti sisa sayur, buah, hingga ampas dapur, dan justru dari “pekerjaan kotor” itulah muncul keuntungan bersih. Dalam waktu kurang dari tiga minggu, larva ini sudah bisa dipanen dan dijual, baik sebagai pakan unggas, ikan, maupun bahan pupuk organik yang bernilai tinggi.
Menariknya, budidaya maggot tidak memerlukan modal besar atau lahan luas. Cukup bermodal wadah sederhana, sampah organik, serta ketelatenan dalam menjaga kebersihan dan kelembapan, siapa pun bisa memulainya dari rumah.
Prosesnya pun ramah lingkungan karena membantu mengurangi volume sampah yang sulit diurai. Tak heran, banyak pelaku usaha pemula yang melirik budidaya maggot sebagai alternatif bisnis hijau yang cepat balik modal dan punya pasar luas.
Lebih dari sekadar peluang ekonomi, maggot membawa semangat baru dalam gaya hidup berkelanjutan. Dari tumpukan sisa dapur yang dulu dianggap tak berguna, kini muncul sumber penghasilan dan solusi nyata bagi masalah sampah organik.
Budidaya ini mengajarkan bahwa inovasi tak selalu harus rumit, cukup melihat potensi dari hal yang sering diabaikan. Dari sampah jadi rupiah, maggot membuktikan bahwa masa depan pertanian dan peternakan bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana namun berdampak besar.
Siapkan Langkah Langkah Ini
1. Tempat dan Kandang yang Nyaman
Kabar baiknya, kamu nggak butuh lahan luas untuk mulai budidaya maggot. Lahan sempit pun bisa! Yang penting, tempatnya tidak kena hujan langsung, tidak panas terik, dan punya sirkulasi udara yang baik.
Gunakan rak bertingkat, ember besar atau bak plastik untuk wadahnya. Suhu ideal sekitar 27 – 35 derajat celcius dengan kelembapan 60 – 80 persen, kondisi ini bikin
maggot tumbuh cepat dan sehat.
2. Bibit BSF yang Berkualitas
Bibit alias telur BSF bisa dibeli dari peternak atau online shop. Pastikan telur berwarna krem kekuningan, kering, dan tidak bercampur lalat rumah. Dalam 2–4 hari, telur akan menetas jadi larva kecil yang siap diberi makan.
3. Siapkan Pakan dari Limbah Organik
Ini bagian paling menarik, maggot bisa hidup dari limbah organik seperti ampas tahu, sisa sayuran, kulit buah, dedak, hingga kotoran ternak. Campur bahan-bahan ini hingga lembap seperti bubur padat.
Hindari pakan yang berminyak atau pedas, seperti sisa gorengan dan sambal, karena bisa menghambat pertumbuhan larva.
4. Rawat dan Panen di Waktu yang Tepat
Setelah menetas, pindahkan larva ke wadah pembesaran berisi media organik. Beri makan setiap hari, dan dalam 12 – 15 hari,
maggot siap panen.
Biasanya, maggot muda digunakan untuk pakan ikan, ayam, atau burung, sedangkan maggot tua (prepupa) bisa dijadikan indukan BSF baru agar siklus budidaya terus berlanjut.
5. Jaga Kebersihan Lingkungan
Walau maggot bisa mengurai sampah, kebersihan tetap nomor satu. Pastikan media tidak becek, pisahkan sisa pakan lama, dan gunakan jaring agar lalat lain tidak masuk. Setelah panen, bersihkan wadah supaya tidak bau dan bebas jamur.
6. Hasilkan Uang dari Setiap Sisi
Keuntungan budidaya maggot bukan cuma dari larvanya. Kamu bisa menjual maggot segar atau kering untuk pakan ternak, Kokon atau sisa media sebagai pupuk organik, bahkan telur BSF untuk peternak baru. Selain itu pasar Maggot juga luas terutama di kalangan peternak ikan dan unggas yang mencari pakan alternatif murah tapi bergizi tinggi. (*)
