Indonesia Kian Seksi di Mata Investor Properti: Sektor Manufaktur & Logistik Diprediksi Tumbuh 20%

Bayu Hidayah
3 Min Read
Indonesia Kian Seksi di Mata Investor Properti (Ilustrasi)

Jakarta, TELUSURBISNIS.COM — Indonesia makin dilirik sebagai magnet investasi properti di Asia Tenggara. Laporan terbaru dari Knight Frank bertajuk “Horizon Report: From Whiplash to Resilience” mengungkap, permintaan terhadap properti industri—khususnya sektor manufaktur dan logistik—diprediksi melesat hingga 20% dalam tiga tahun ke depan.

Di tengah ketidakpastian global, strategi perusahaan global berubah arah. Mereka tak lagi hanya mengejar efisiensi biaya, tetapi mulai membangun rantai pasok yang lebih tangguh dan terdesentralisasi. Inilah yang dikenal sebagai strategi China+1, di mana investor besar dari China, Jepang, dan Korea Selatan mulai mengalihkan investasi ke negara-negara ASEAN seperti Vietnam dan Indonesia.

“Kita telah masuk fase baru. Bukan soal ekspansi semata, tapi soal daya tahan,” tegas Tim Armstrong, Global Head of Occupier Strategy and Solutions, Knight Frank.

Properti Fleksibel Jadi Primadona Baru

Perubahan strategi ini berdampak langsung pada model bisnis properti. Permintaan terhadap kawasan industri siap pakai, seperti plug-and-play logistics parks dan fasilitas built-to-suit, melonjak tajam.

Model sewa jangka pendek 1–3 tahun dengan opsi perpanjangan menjadi tren. Fleksibilitas kini menjadi kunci. Bagi pengembang, ini artinya adaptasi: dari rigid ke responsif, dari standar ke spesifik.

Indonesia Siap Ambil Peran Lebih Besar

Menurut Christine Li, Head of Research Asia-Pacific Knight Frank, tren investasi global kini bergeser ke konsep “Asia untuk Asia”. Artinya, lebih dari 65% keputusan investasi rantai pasok dipicu oleh konsumsi dalam kawasan Asia sendiri.

Indonesia, bersama Vietnam dan India, berada di posisi unggul. Di sektor manufaktur, permintaan properti meningkat signifikan, terutama dari industri elektronik, otomotif, dan logistik.

“Indonesia punya potensi besar—pasar domestik luas, infrastruktur berkembang, dan sumber daya alam melimpah,” jelas Willson Kalip, Country Head Knight Frank Indonesia.

Namun demikian, Kalip menekankan pentingnya dukungan pemerintah. Iklim investasi yang kondusif, termasuk kepastian regulasi dan harmonisasi dengan masyarakat lokal, akan menjadi penentu keberhasilan jangka panjang.

Bukan Lagi Cari Murah, Tapi Cari Tangguh

Data Knight Frank’s Global Corporate Real Estate Sentiment Index (GCRESI) mencatat, meskipun pasar sempat tertekan oleh isu tarif global, perusahaan tetap agresif dalam rencana ekspansi fisik dan belanja modal.

Artinya, perusahaan kini lebih memilih pendekatan adaptif dan tahan guncangan, ketimbang sekadar berburu lokasi dengan biaya terendah.

Peluang Besar, Tugas Bersama

Indonesia tengah berada di persimpangan strategis. Dengan posisi geografis yang menguntungkan dan daya saing yang makin meningkat, negeri ini berpeluang besar menjadi pusat industri dan logistik regional.

Namun, peluang hanya akan jadi kenyataan bila semua pihak—pemerintah, pengembang, dan pelaku industri—bergerak selaras. Era baru properti telah tiba. Saatnya Indonesia ambil panggung utama. (bay)

Share This Article
Leave a comment