Kain Kasa, Viral, dan Sebuah Luka yang Belum Tertutup usai Operasi di RS Hastien

Bayu Hidayah
4 Min Read

Karawang, TELUSURBISNIS.COM – Nama Rumah Sakit Hastien di Karawang mendadak jadi buah bibir. Bukan karena prestasi medis, melainkan karena sebuah video pendek, tak sampai satu menit, yang viral di linimasa.

Dalam rekaman itu, tubuh seorang perempuan tua tampak terbujur di kasur. Jahitan di perutnya belum rapat. Di sela luka, selembar kain kasa putih terlihat menyembul.

Warganet bergidik. Komentar pun berserakan, antara marah, heran, dan takut: “Bagaimana bisa? Bukankah ini rumah sakit?”

Perempuan itu bernama Mursiti (62), warga Kampung Pamahan, Desa Sumberurip, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi. Ia disebut baru saja menjalani operasi pengangkatan bisul di RS Hastien, Rengasdengklok, Karawang. Beberapa hari selepas tindakan medis itu, Mursiti meninggal dunia.

Kabar ini menyulut amarah warga dan menciptakan gelombang kecurigaan. Salah satunya datang dari Bang Mar, kerabat korban, yang merasa ada yang tak wajar.

“Kami curiga karena ditemukan benda seperti kapas dan potongan kain putih di bagian perut almarhum. Jumlahnya tidak wajar,” katanya, Sabtu, 11 Oktober 2025.

Cerita itu cepat sekali beredar, bahkan sebelum pihak rumah sakit sempat memberi klarifikasi. Publik terlanjur menilai: ada kelalaian, bahkan sebagian menyebut malpraktik.

Pihak RS Hastien buru-buru angkat suara. dr. Fahri Trisnaryan P, Manajer Pelayanan Medis, menjelaskan, pasien datang dalam kondisi berat: infeksi di area bokong dan perut bawah, ditambah diabetes melitus yang tak terkendali.

“Operasi dilakukan untuk mengeluarkan nanah yang menyebar ke rongga perut bawah. Luka tidak dijahit rapat karena butuh drainase pasif agar cairan bisa keluar,” ujarnya.

Menurut Fahri, tindakan medis sudah sesuai standar, pembersihan luka, antibiotik, kontrol gula darah, perawatan lanjutan. Bahkan, katanya, kondisi pasien sempat membaik.

“Demam turun, nyeri berkurang, luka mengering,” ucapnya. Namun, sebelum jadwal kontrol pertama tiba, Mursiti meninggal dunia di rumah.

Manajer Keperawatan RS Hastien, Hendra Kurniawan, menambahkan: “Saat dipulangkan, kondisi pasien stabil. Tidak ada tanda infeksi aktif. Kami sudah edukasi keluarga untuk kontrol rutin.”

Kasus ini tak berhenti di ranah spekulasi warganet. Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, turun tangan.

Logopit 1744108800827 Kain Kasa, Viral, dan Sebuah Luka yang Belum Tertutup usai Operasi di RS Hastien

“Iya, ramai itu. Saya sudah instruksikan Dinas Kesehatan untuk cek ke rumah sakit dan ke pihak keluarga,” ujarnya di Plaza Pemda Karawang, Senin, 13 Oktober 2025.

Ia sadar, isu medis semacam ini sensitif. Salah ucap bisa menyalakan bara baru. “Harus dipastikan dulu, apakah tindakan medisnya sudah sesuai SOP atau tidak,” tegasnya.

Sementara di sisi lain, Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang juga bergerak. Kepala Dinkes, Endang Suryadi, mengaku prihatin.

“Kami turut berduka cita dan sangat prihatin atas apa yang menimpa pasien serta keluarganya,” ujarnya.

Endang menurunkan tim untuk memantau langsung ke RS Hastien. Ia menolak terburu-buru menyimpulkan.

Logopit 1760342883362 Kain Kasa, Viral, dan Sebuah Luka yang Belum Tertutup usai Operasi di RS Hastien

“Belum bisa dikatakan malpraktik. Kami masih klarifikasi. Penilaian etik nanti oleh MKEK (Majelis Kehormatan Etik Kedokteran),” katanya.

Ia juga mencoba memberi konteks medis: dalam beberapa operasi tertentu, kain kasa memang bisa dibiarkan sementara di luka untuk menyerap cairan sebelum dijahit ulang saat kontrol.

“Biasanya digunakan sementara karena ada rongga bekas nanah. Setelah kering dan tak rembes, baru dijahit,” jelasnya.

Namun, ia menegaskan, timnya tetap akan memastikan apakah prosedur itu dilakukan sesuai standar atau tidak.

“Kami pelajari apakah tindakan medisnya sudah sesuai prosedur,” ucapnya.

Di tengah semua pernyataan itu, ada satu hal yang belum punya jawaban: mengapa Mursiti meninggal? Apakah karena infeksi, komplikasi, atau sebab lain?

Dinas Kesehatan belum bisa memastikan. “Masih kami dalami. Tidak bisa langsung disimpulkan tanpa kajian lengkap,” kata Endang.

Sementara keluarga menunggu kepastian, publik menunggu kebenaran. Dan di antara dua penantian itu, di ruang komentar media sosial, di beranda berita online, nama Mursiti terus bergema, bersama satu simbol yang tak kunjung hilang dari ingatan: sehelai kain kasa putih di perut seorang ibu. ***

Share This Article
Leave a comment