Kasus Campak di Sukabumi Capai 23 Kasus hingga Maret 2026, Dinkes Tingkatkan Kewaspadaan

Prima Arno Meidiandi
3 Min Read
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Sukabumi Denna Yuliavina. (Prima Arno/Telusurbisnis)

Sukabumi, TELUSURBISNIS.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi mencatat sebanyak 23 kasus positif campak ditemukan sejak akhir tahun 2025 hingga Maret 2026.

Temuan tersebut diperoleh melalui pemantauan serta penyelidikan epidemiologi terhadap sejumlah warga yang mengalami gejala khas penyakit menular tersebut.

Kepala Dinkes Kota Sukabumi, Ida Halimah, mengatakan meski terdapat temuan kasus campak, hingga saat ini kondisi di wilayahnya belum memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Sejauh ini belum diperlukan penetapan status KLB. Namun upaya pencegahan tetap kami lakukan secara intensif untuk mencegah penyebaran lebih luas,” ujar Ida, Senin 16 Maret 2026.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Sukabumi Denna Yuliavina menjelaskan, bahwa selama periode tersebut pihaknya menemukan 32 kasus suspek campak.

“Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium, sebanyak 23 kasus dipastikan positif campak,” kata Denna.

Ia juga menyebutkan bahwa secara nasional Indonesia masih menghadapi tantangan dalam pengendalian penyakit campak. Bahkan, Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus campak tertinggi kedua setelah Yaman.

Di tingkat provinsi, terdapat sembilan daerah di Jawa Barat yang telah menetapkan status KLB campak. Meski begitu, Kota Sukabumi hingga kini belum masuk dalam kategori tersebut.

“Walaupun sempat terjadi peningkatan kasus pada tahun 2025, jumlahnya mulai menurun di tahun 2026. Selain itu, sampai saat ini juga belum ada laporan kematian akibat campak di Kota Sukabumi,” jelas Denna.

Dinkes Kota Sukabumi pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang arus mudik yang berpotensi meningkatkan mobilitas dan kerumunan warga.

Masyarakat diminta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menggunakan masker saat berada di keramaian, menjaga jarak, serta mengonsumsi makanan bergizi untuk menjaga daya tahan tubuh.

“Situasi mudik biasanya membuat kerumunan meningkat. Karena itu masyarakat perlu lebih waspada dengan tetap menjaga kebersihan, memakai masker, dan menerapkan pola hidup sehat,” tambahnya.

Selain itu, Denna menekankan pentingnya imunisasi dasar lengkap bagi anak, khususnya balita. Berdasarkan data Dinkes, cakupan imunisasi dasar lengkap di Kota Sukabumi pada tahun 2025 telah mencapai 98,9 persen atau melampaui target nasional.

Meski demikian, masih terdapat sekitar 1,1 persen anak yang belum mendapatkan imunisasi. Kondisi ini bisa dipengaruhi berbagai faktor, baik dari kesadaran orang tua maupun kendala dalam pelayanan kesehatan.

Dinkes juga mengingatkan para orang tua untuk memastikan anak mendapatkan asupan gizi yang cukup serta menjaga kebersihan lingkungan guna mengurangi risiko penularan campak di masyarakat. (Andi)

Share This Article
Leave a comment