Keripik Tempe Kahla Nagrak Sukabumi Tembus Pasar Dunia

Telusur Bisnis
4 Min Read
Dari sebuah lahan seluas 500 meter persegi di Kampung Nagrak Lebak, Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, Sukabumi, pasangan suami istri Handry Wahyudi (53) dan Vivi Herviany (51) membuktikan bahwa makanan tradisional Indonesia bisa menembus pasar internasional.

Keripik Tempe Kahla dari Nagrak Sukabumi Kini Diekspor ke Arab Saudi, Australia, dan Belanda

SUKABUMI, TELUSURBISNIS.COM – Dari sebuah lahan seluas 500 meter persegi di Kampung Nagrak Lebak, Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, Sukabumi, pasangan suami istri Handry Wahyudi (53) dan Vivi Herviany (51) membuktikan bahwa makanan tradisional Indonesia bisa menembus pasar internasional. Keripik Tempe Kahla—yang awalnya dijual Rp1.000 per bungkus plastik kecil ke warung-warung sekitar kampung—kini diekspor ke Arab Saudi, Australia, Belanda, dan sejumlah negara lainnya.

Perjalanannya tidak singkat. Dan tidak mulus.

Hijrah dari Jakarta, Bangkrut di Kampung

Kisah Kahla dimulai jauh sebelum ada keripik tempe. Pada 2008, Vivi dan suami memutuskan meninggalkan Jakarta setelah kantor tempat mereka bekerja gulung tikar.

“Kami sengaja mengambil tempat di sini. Sepi dan udaranya bersih. Sudah bosen dengan keramaian di Jakarta,” ujar Vivi kepada awak media, Kamis 2 April 2026.

Mereka mencoba peruntungan di Nagrak dengan membuka counter HP. Tidak bertahan lama—bisnis itu bangkrut pada 2009. Tanpa pilihan lain, keduanya kembali ke jalur formal: bekerja sebagai sales di sebuah perusahaan rokok daerah. Rutinitas itu berlangsung hingga 2014.

Titik Balik: Penghargaan yang Mengubah Cara Berpikir

Di ujung masa kerjanya sebagai sales, Vivi menerima penghargaan dari perusahaan rokok tempat ia bekerja. Momen itu memantik pertanyaan yang kemudian mengubah hidupnya.

Jika ia bisa berhasil mempromosikan produk orang lain, mengapa tidak mencoba menjual produknya sendiri? Vivi mulai memikirkan produk makanan yang punya daya jual luas—bisa dijadikan camilan, bisa juga menjadi lauk.

Pilihannya jatuh pada tempe. Alasannya sederhana namun tajam:

“Kalau singkong, kan tidak bisa dimakan dengan nasi. Tapi kalau tempe, bisa untuk makanan iseng, juga dengan nasi sebagai lauk.”

Mulai dari Rp1.000 Per Bungkus

Akhir 2014, Vivi dan suami mulai memproduksi keripik tempe dalam skala kecil. Produk itu diberi nama Kahla—nama satu-satunya anak mereka.

Semua dikerjakan sendiri. Membeli tempe, membumbuinya, menggoreng, hingga mengantar langsung ke warung-warung sekitar kampung.

“Mulanya kami hanya mencoba sedikit-sedikit dengan modal tidak seberapa. Semua kami kerjakan sendiri.”

Harga jual ke konsumen: Rp1.000 per bungkus plastik kecil. Ke warung dihargai Rp800—warung mengambil margin Rp200.

“Ke warung kami kasih harga 800 rupiah. Warung ambil untung 200 rupiah. Alhamdulilah, tempe saya laku. Baru sebulan, sudah banyak yang minta kembali.”

Transformasi Kemasan: Dari Plastik ke Aluminium Foil

Respons pasar lokal yang positif mendorong Vivi untuk memperluas jangkauan ke kota Sukabumi. Namun masuk ke pasar kota membutuhkan standar berbeda—terutama pada kemasan.

Vivi mengambil keputusan yang berisiko secara finansial namun strategis secara bisnis: mengganti bungkus plastik sederhana dengan aluminium foil berdesain profesional.

“Dari plastik, saya ubah ke aluminium foil. Saya desain bungkusnya menjadi lebih baik dan ini memerlukan modal yang tidak sedikit.”

Transformasi kemasan itu langsung mengubah posisi produk di pasar. Harga per bungkus naik dari Rp1.000 menjadi Rp15.000. Namun Vivi tidak meninggalkan segmen awalnya—kemasan kecil murah tetap beredar di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.

Dari Arisan hingga Pameran Nasional

Strategi pemasaran Vivi tidak bergantung pada satu jalur. Ia aktif mengikuti berbagai pameran produk—dari skala komunitas lokal hingga ajang nasional di pusat perbelanjaan besar.

“Saya mengikuti pameran-pameran. Dari kelas kampung, sampai kelas nasional. Dari kelas arisan, sampai pameran di gedung-gedung perbelanjaan.”

Konsistensi di jalur promosi langsung inilah yang membuka pintu ke pasar ekspor. Keripik Tempe Kahla kini telah menjangkau konsumen di Arab Saudi, Australia, Belanda, dan beberapa negara lainnya—sebuah pencapaian yang sulit dibayangkan saat Vivi pertama kali mengantar bungkus Rp800 ke warung-warung Nagrak satu dekade lalu.

Rumah produksi Kahla berdiri di atas lahan 500 meter persegi di Kampung Nagrak Lebak RT 01/02, Desa Balekambang, Nagrak, Sukabumi—dua bangunan yang menampung sekaligus tempat produksi dan tempat tinggal keluarga Handry dan Vivi.

Share This Article
Follow:
Kami adalah media online yang menyajikan informasi terkini, inspiratif dan inovatif. Kami berkomitmen menyampaikan informasi secara cerdas, menginspirasi dan mengedukasi. (*)
Leave a comment