Kisah Abdurrohman, Penderita Penyakit Kulit Genetik di Sukabumi yang Akhirnya Dapat Penanganan

Prima Arno Meidiandi
2 Min Read

Kabupaten Sukabumi, TELUSURBISNIS.COM – Kisah pilu datang dari Abdurrohman (45), warga Kelurahan Benteng, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi. Selama bertahun-tahun ia hidup dengan penyakit kulit genetik yang membuat tubuhnya dipenuhi kutil. Baru setelah laporan warga masuk ke pemerintah daerah, kondisinya terungkap dan kini mendapatkan penanganan medis serta perhatian sosial.

Lurah Benteng, Tri Hastuti, mengungkapkan bahwa kasus ini mencuat setelah ada laporan masyarakat. Tim gabungan yang terdiri dari pihak kecamatan, puskesmas, dan kader kesehatan langsung turun ke rumah Abdurrohman untuk melakukan pengecekan.

“Awalnya kami mendapat laporan dari warga. Setelah dicek ke lapangan, ternyata kondisi yang dialami Pak Abdurrohman sangat memprihatinkan. Bahkan ia belum memiliki dokumen kependudukan,” ujar Tri, Rabu 27 Agustus 2025.

Dari keterangan ayahnya, Hamdan (70), Abdurrohman juga mengalami disabilitas intelektual, sehingga selama ini sulit terdata dalam berbagai program sosial.

Dibawa ke RSUD untuk Perawatan

Setelah dilakukan pengecekan, Abdurrohman segera dibawa ke RSUD R Syamsudin SH Sukabumi. Tim medis melakukan tindakan awal termasuk biopsi untuk memastikan kondisi penyakit kulit yang dideritanya.

“Semalam beliau sudah masuk UGD dan hari ini dilakukan biopsi. Penyakitnya bersifat genetik dan tidak berbahaya,” kata Tri. Hasil pemeriksaan lanjutan diperkirakan keluar dalam waktu satu pekan.

Masalah Administrasi Segera Ditangani

Selain masalah kesehatan, kendala administrasi juga langsung ditindaklanjuti. Petugas Disdukcapil turun langsung untuk melakukan perekaman biometrik agar Abdurrohman segera memiliki KTP. Dengan begitu, ia bisa segera terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan dan berhak mendapat jaminan layanan kesehatan.

Tri menambahkan, Abdurrohman sebenarnya pernah menjalani perawatan di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Namun, sejak ibunya meninggal sekitar 10 tahun lalu, pengobatannya terhenti. “Keluarganya mengaku tidak ada perkembangan berarti, jadi pengobatan tidak dilanjutkan,” jelasnya.

Humas RSUD R Syamsudin SH, dr. Irfanugraha Triputra, mengatakan hingga kini belum ada kepastian soal pembiayaan. “Penilaian awal tidak ada kegawatan, jadi kalau masuk perawatan inap tetap ada risiko biaya tunai,” singkatnya. ***

Share This Article
Leave a comment