Mochi Sukabumi: Warisan Budaya Khas Indonesia yang Legendaris

Prima Arno Meidiandi
2 Min Read
Mochi Sukabumi: Warisan Budaya Khas Indonesia yang Legendaris

Kabupaten Sukabumi, TELUSURBISNIS.COM – Mochi Sukabumi, kue kenyal berbahan dasar tepung ketan, merupakan kuliner legendaris yang menggabungkan sejarah, budaya, dan cita rasa khas Indonesia.

Berbeda dari mochi Jepang, mochi Sukabumi memiliki keunikan dalam pembuatan dan isian, menjadikannya sebagai warisan budaya tak benda yang patut dilestarikan.

Sejarah yang Tersembunyi

Asal-usul mochi Sukabumi masih misterius, namun dua teori kuat menjelaskan keberadaannya. Pertama , mochi diperkenalkan tentara Jepang pada masa pendudukan, ketika warga lokal bekerja sebagai koki di barak militer. Kedua , mochi dibawa oleh komunitas Tionghoa yang menyajikannya dalam perayaan Imlek dan pernikahan. Kedua teori ini memperlihatkan akulturasi budaya yang membentuk identitas mochi Sukabumi.

Pada 2022, mochi Sukabumi resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBtB) oleh Pemerintah Jawa Barat. Meski terinspirasi dari luar, proses pembuatan dan kekhasannya menjadikan mochi ini sebagai simbol kuliner Nusantara.

Keunikan yang Membedakan

Mochi Sukabumi berbeda dari mochi Jepang dalam beberapa hal:

  1. Bahan Dasar : Menggunakan tepung ketan putih, bukan mochigome (beras khusus ala Jepang).
  2. Isian dan Bungkus : Isian kacang tanah dan dibungkus daun bambu, memberi aroma alami yang khas.
  3. Tekstur : Lebih kenyal dan gurih, cocok dengan selera Indonesia.

Kaswari: Pusat Kuliner Mochi Legendaris

Kampung Kaswari di Sukabumi adalah pusat produksi mochi sejak era kolonial. Dulunya, tentara Jepang mendirikan pabrik mochi di sini untuk kebutuhan acara resmi. Kini, Kaswari menjadi destinasi wisata kuliner dengan puluhan produsen mochi, seperti Mochi Garuda , yang telah melegenda.

Mochi Sukabumi dalam Kehidupan Modern

Selain sebagai oleh-oleh, mochi Sukabumi kini hadir dengan inovasi rasa dan kemasan. Variasi isi seperti cokelat, keju, dan durian menarik minat generasi muda, sementara produsen tetap mempertahankan resep tradisional.

“Mochi bukan sekadar camilan, tapi bagian dari identitas kami,” ujar Ibu Rina, salah satu pengrajin mochi di Kaswari. (Andi)

Share This Article
Leave a comment