Karawang, TELUSURBISNIS.COM – Komitmen PT PLN (Persero) mendukung kemajuan pendidikan di Indonesia, kembali diwujudkan dengan menghadirkan akses pendidikan digital bagi anak-anak yatim dan dhuafa, di wilayah Karawang dan sekitarnya.
Hal itu diwujudkan PLN bersama Pondok Pesantren SAYAD (Saung Yatim dan Dhuafa) melalui Program Tanggung Jawab sosial Lingkungan (TJSL), Senin 11 Agustus 2025.
Pondok Pesantren Anak Yatim dan Dhuafa SAYAD merupakan lembaga pendidikan dan pengasuhan yang berlokasi di Desa Majalaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Berdiri sejak tahun 2015, pesantren ini didirikan dengan tujuan mulia untuk mendidik, mengasuh, dan membina anak-anak yatim dan dhuafa agar menjadi generasi yang berakhlak mulia, berilmu, dan mampu bersaing di era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Kegiatan berlangsung di lingkungan Pondok Pesantren SAYAD ini menghadirkan berbagai fasilitas pendukung pembelajaran digital, termasuk perangkat komputer, koneksi internet, serta pelatihan literasi digital bagi santri dan anak-anak di lingkungan sekitar pesantren.
General Manager PLN UIT JBT Abdul Salam Nganro, menyampaikan, program ini merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN dalam pilar pendidikan.
“Kami percaya bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak, termasuk akses terhadap teknologi. Melalui kerja sama ini, kami berharap santri dan anak-anak yatim di Pesantren SAYAD dapat tumbuh menjadi generasi yang melek digital dan siap menghadapi tantangan masa depan,” ujar Abdul Salam.
Pimpinan Pondok Pesantren SAYAD Ustaz Narto Majid, menyambut baik kolaborasi ini. “Bagi kami, ini bukan sekadar bantuan fasilitas, tetapi bentuk nyata perhatian terhadap masa depan anak-anak kami,” kata Ustaz Narto.
Kehadiran Sekolah Rakyat di pesantren, lanjut Ustaz Narto, menjadi pintu pembuka bagi anak-anak yatim dan dhuafa untuk mengenal dunia luar, mengasah keterampilan, dan mempersiapkan diri menghadapi era digital.
Sementara Manager UPT Karawang Harry Gumilang, juga menambahkan bahwa dukungan ini selaras dengan komitmen PLN dalam menjangkau masyarakat di tingkat lokal.
“Kami melihat program ini tidak hanya meningkatkan literasi digital, tetapi juga membuka peluang baru bagi anak-anak yatim dan dhuafa untuk mengembangkan potensi mereka. Kami berharap inisiatif ini menjadi langkah awal untuk membangun kemandirian dan rasa percaya diri di kalangan mereka,” ujar Harry.
Program Pendidikan untuk mewujudkan akses pendidikan digital bagi anak-anak yatim dan dhuafa ini sejalan dengan semangat program sekolah rakyat yang telah diluncurkan pemerintah pada bulan juli lalu.
Program ini menjadi ruang belajar terbuka yang inklusif, tidak hanya untuk santri, tetapi juga untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu di sekitar pesantren.
Melalui sinergi ini, PLN berharap dapat terus menjadi motor penggerak perubahan sosial dan pendidikan, khususnya bagi kelompok yang selama ini memiliki keterbatasan akses. (*)
