Sensasi Petik Melon di Desa Wisata Karangjaya, Wisata Santai yang Bikin Pengunjung Ketagihan

Bayu Aria
3 Min Read
Pengunjung Desa Wisata Karangjaya asal Jakarta merasakan sensasi petik melon. (Telusurbisnis)

Karawang, TELUSURBISNIS.COM – Agrowisata petik melon di Desa Wisata Karangjaya kembali jadi magnet bagi wisatawan, terutama dari Jakarta. Aktivitas memetik melon langsung dari kebunnya, lalu langsung mencicipi buah yang baru saja dipotong jadi pengalaman yang jarang ditemui warga ibu kota. Sensasi makan buah super segar dari pohonnya pun jadi daya tarik utama.

Anggi, salah satu pengunjung asal Jakarta, mengaku sangat puas. Menurutnya, melon Karangjaya punya kualitas yang bikin ketagihan: manis, beraroma kuat, dan warnanya kuning cerah. Ditambah lagi suasana desa yang adem dan jauh dari hiruk-pikuk kota, semuanya jadi terasa lebih istimewa.

“Seru banget! Biasanya beli melon di supermarket, sekarang bisa metik sendiri langsung dari pohonnya. Rasanya beda,” ujar Anggi saat ditemui di lokasi, Kamis 11 Desember 2025.

Ia juga menyebut kalau melon yang dipetik langsung terasa jauh lebih segar. “Kalau di supermarket kan suka nggak dijamin segar, udah beberapa hari. Kalau ini baru dipotong, beneran kerasa ‘kreek’ pas digigit, kayak makan bengkoang tapi lebih lembut,” tambahnya sambil tersenyum.

Konsep Wisata yang Bikin Dekat dengan Alam

Kepala Desa Karangjaya, Abdilah Zulkarnain, menjelaskan bahwa konsep petik melon ini dibuat agar masyarakat kota bisa merasakan langsung proses budidaya dan panen buah berkualitas.

“Kami ingin pengunjung lebih dekat dengan alam. Melon di sini ditanam tanpa bahan kimia berlebihan, jadi aman dan kualitasnya tetap terjaga,” jelasnya.

Selain agrowisata melon, Desa Karangjaya juga memperkenalkan potensi wisata lain seperti green house melon yang mendukung ketahanan pangan, budidaya jamur tiram, hingga wisata kampung rambutan di mana satu kampung dipenuhi pohon rambutan.

Wisata Budaya yang Tetap Lestari

Karangjaya bukan cuma soal buah-buahan. Desa ini juga dikenal sebagai desa wisata berbasis budaya dan kearifan lokal. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan turun-temurun adalah ngedodol, sebuah kegiatan membuat dodol bersama-sama menjelang hajatan.

Menurut Kepala Desa, tradisi ngedodol bukan hanya soal membuat makanan, tetapi juga sarana pemberitahuan kepada keluarga besar bahwa ada acara.

Nilai gotong royong sangat kuat di sini keluarga jauh, keluarga dekat, sampai tetangga semua datang untuk membantu. “Budaya gotong royong ini yang ingin terus kami jaga. Bukan sekadar tradisi, tapi identitas desa,” ujarnya.

Dengan semakin tingginya minat masyarakat terhadap wisata alam, Agrowisata Desa Karangjaya berharap terus menjadi tujuan favorit, terutama bagi pengunjung dari wilayah perkotaan seperti Jakarta. Pengalaman autentik dan edukatif ditambah suasana desa yang menenangkan membuat banyak wisatawan ingin kembali lagi. (Sarmin)

Share This Article
Leave a comment